Akuisisi Kosa Kata Bahasa Inggris Melalui Multimedia Vs. Gambar
Mati: Studi Komparatif
Absrak
Penelitaian ini
bertujuan menguji efek dari gambar mati dan gambar animasi terhadap akuisisi
kosa kata Bahasa Inggris. Peneliti berusaha mencari tahu model pembelajaran
yang mana yang lebih efektif dalam meningkatkan akuisisi kosa kata untuk bisa diingat dalam memori. Penelitian ini
dilakukan pada dua kelompok sekolah dasar di Riyadh berdasar pada pelajaran
kosa kata dalam buku teks mereka. Mereka dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok
satu, yang merupakan kelompok kontrol, diajar dengan cara tradisional, yaitu
diberi gambar mati, sementara kelompok eksperimental diajar dalam lingkungan
multimedia, menggunakan gambar animasi/gambar hidup. Kemudian diadakan pra tes
dan post tes supaya bisa mendapatkan data yang diperlukan. Hasil dari kedua tes
itu dianalisa menggunakan Paired Sample
T-test. Peneliti berhipotesa bahwa penggunaan multimedia meningkatkan
persepsi dan daya ingat terhadap kosa kata Bahasa Inggris lebih banyak daripada
penggunaan gambar mati. Penemuan penelitian ini mendukung hipotesa peneliti,
yaitu gambar hidup lebih efektif untuk mengajarkan kosa kata yang belum
diketahui daripada gambar mati. Rekomendasi untuk penelitian lebih lanjut
diberikan.
Pendahuluan
Penelitian menunjukkan
bahwa tanpa pengetahuan yang mencukupi akan kosa kata yang relevan, siswa
mengalami kesulitan mengerjakan tugas kosa kata (Harley, 1996). Harley mencatat
bahwa pengetahuan kosa kata sangatlah mendasar bagi perkembangan kemahiran
bahasa Inggris. Sementara banyak
peneliti setuju akan pentingnya akuisisi kosa kata Bahasa Inggris dalam
pencapaian akademis dan kemahiran bahasa Inggris, Ide para peneliti tentang
bagaimana kosa kata Bahasa Inggris
seharusnya dipelajarai sangatlah beragam. Penelitian ini bertujuan menentukan
keefektifitasan menggunakan penjelasan singkat dari multimedia termasuk animasi
dalam akuisisi kosa kata Bahasa Inggris.
Salah satu faktor yang
penting ialah kebutuhan akan metoda pedagogis yang efektif untuk mengajar kosa
kata Bahasa Inggris. Metoda pedagogis tradisional untuk akuisisi kosa kata
Bahasa Inggris termasuk daftar kata, penggunaan kamus, Lembar Kerja Siswa,
materi buatan guru, diskusi kelompok, dan visual seperti gambar mati dan obyek
nyata. Namun, pengembangkan metoda pedagogis efektif untuk akuisisi kosa kata Bahasa Inggris terus diperhatiakan
dan dijajaki (Ihenacho, 1997).
Satu pedagogi yang
menarik banyak peneliti adalah computer-assisted
language learning (CALL). Banyak praktisi telah menyatakan bahwa tekhnologi
ini memiliki potensi untuk digunakan dalam pembelajaran bahasa. Walaupun bidang
ini terbilang masih baru, banyak guru Bahasa Inggris dan praktisi sedang
menguji penggunaannya sebagai komponen pentig dalam pengajaran Bahasa Inggris.
Salah satu penggunaan potensial dari CALL yang telah banyak diperhatikan selama
beberapa tahun berlalu ialah bagaimana menggunakan multimedia dalam proses
belajar mengajar Bahasa Inggris. Multimedia dalam lingkungan komputer
menyiratkan kombinasi dari berbagai media teks, video, audio dan
gambar2 atau kombinasi dari dua hal tersebut. Minat telah dipersempit
menjadi penelitian dampak menyajikan informasi melalui banyak modalitas di
bidang Pembelajaran Bahasa Inggris. Lagipula, efek dari penjelasan makna sebuah
kata melalui anotasi multimedia telah banyak diperhatikan.
1. Tinjauan
Pustaka
Survei pustaka yang bertujuan untuk mengetahui dampak dan efek dari
anotasi multimedia dalam akuisisi kosa kata Bahasa Inggris akan dibahas di
sini. Tinjauan ini berfokus pada dua hal. Pertama, tinjauan ini akan
mempertimbangkan para peneliti yang berurusan dengan akuisisi kosa kata Bahasa
Inggris. Kedua, tinjauan ini akan
berfokus pada penelitian yang berkaitan dengan efek anotasi multimedia pada
akuisisi kosa kata Bahasa Inggris. Teori yang terkait juga akan disajikan di
sini.
A. Akuisisi
Kosa Kata Bahasa Inggris
Kosa kata Bahasa Inggris
adalah salah satu media dimana melalui media ini arti, ide, dan perasaan bisa
disampaikan. Kosa kata Bahasa Inggris memiliki perang yang penting dalam
belajar dan mengajar bahasa apapun. Mempelajari kosa kata Bahasa Inggris adalah
aspek penting dari perkembangan bahasa. Beberapa sarjana menganggap pengetahuan
kosa kata Bahasa Inggris sebagai faktor paling penting dalam prestasi akademis
untuk pembelajar Bahasa Inggris. Peneliti mengindikasikan bahwa pengetahuan
kosa kata Bahasa Inggris sangat berkaitan dengan kecakapan membaca, dan
lagipula pengetahuan kosa kata Bahasa Inggris bisa membantu mencapai kesuksesan
belajar di sekolah (Tozcui & Coaday, 2004).
Evans (1978) menunjukkan
bahwa kosa kata Bahasa Inggris memiliki peran penting dalam pengembangan empat
ketrampilan bahasa: berbicara, mendengar, membaca dan menulis. Dia menyatakan
bahwa kosa kata Bahasa Inggris bisa memberikan kejelasan dan membuat pembicara dapat memperluas bahasa.
Lebih jauh dia menunjukan bahwa penggunaan kosa kata Bahasa Inggris yang salah
bisa menyebabkan salah tafsir, sementara penggunaan kosa kata Bahasa Inggris
yang benar akan mempermudah orang untuk membaca dan menulis dengan baik,
memahami pokok pikiran dan berbicara dengan benar (Iheanacho, 1997). Dalam kaitan
ini, Allen (1983) menunjukkan bahwa alasan akan pentingnya kosa kata Bahasa
Inggris ialah: “melalui penelitian, para sarjana menemukan bahwa masalah
leksikal sering mengganggu komunikasi; komunikasi gagal ketika orang tidak
menggunakan kata yang benar” (hal.5, Iheanacho, 1997).
Menurut Knight (1994),
akuisisi kosa kata Bahasa Inggris dianggap oleh banyak ahli sebagai masalah
utama dalam belajar Bahasa Inggris. Dia menunjukkan bahwa mayoritas siswa yang
belajar Bahasa Inggris dan guru mereka menyatakan bahwa kosa kata Bahasa
Inggris merupakan prioritas utama. Diakuinya bahwa kosa kata Bahasa Inggris itu
penting, maka para peneliti mendorong mencari metoda pedagogis yang efektif
untuk mengajar kosa kata Bahasa Inggris yang baru.
Dalam hal ini, Shrum dan
Glisan (1994) memberikan banyak metoda pedagogis untuk mengembangkan
ketrampilan kosa kata Bahasa Inggris. Mereka mengungkapkan pandangan bahwa kosa
kata Bahasa Inggris yang baru seharusnya diperkenalkan dalam sebuah konteks
yang menggunakan kosa kata Bahasa Inggris dan tata bahasa yang sudah dikenal.
Agar bisa belajar kosa kata Bahasa Inggris lebih efektif, mereka
merekomendasikan penggunaan media visual untuk memperkenalkan kosa kata Bahasa
Inggris yang baru (Iheanacho, 1997). Lagipula, Uberman (1998) menunjukkan
beberapa tekhnik tradisional yang membantu
guru mengajar kosa kata Bahasa Inggris kepada siswanya. Tekhnik2 ini
termasuk penjelasan verbal, kamus, dan tekhnik visual. Dia menunjukkan bahwa
tekhnik visual membuat siswa bisa mengingat kosa kata Bahasa Inggris lebih
baik. Sutton (1999) menambah tekhnik lain seperti gambar skema, hubungan kata,
contoh, anekdot, konteks, peta semantik, akar kata dan imbuhan.
Ellis (1995) lebih jauh
melaporkan bahwa semakin sering siswa terekspos dengan kosa kata Bahasa Inggris
baru dengan tujuan memahami dan memproduksi, maka semakin meningkat pula proses
leksikal otomatis akan kosa kata Bahasa Inggris oleh siswa. Menangkap semua arti kata yang diberikan
memerlukan pembelajaran sadar bersamaan dengan strategi yang lebih dalam
seperti peta semanti dan mengkhayalkan, yang merupakan tekhnik mnemonik yang
berkaitan dengan pembelajaran eksplisit. Pengetahuan akan sebuah kata
memrulukan pembelajaran sadar tentang ejaannya, ucapannya, dan sifat
sintaktiknya dan hubungannya dengan kata lain dalam jaringan semantik. Juga
diperlukan menghubungkan bentuk2 ini dengan seperangkat ekstensif acuan visual
(Duquette & Renie, 1998). Ulasan ini mendukung pentingnya kosa kata Bahasa
Inggris dalam pembelajaran Bahasa Inggris.
B. Efek Anotasi
Multimedia Pada Akusisi Kosa Kata Bahasa Inggris
Pada tahun akhir-akhir ini, semakin banyak
penelitian di bidang pembelajaran Bahasa Inggris yang dibantu oleh komputer
(CALL) telah menyampaikan masalah efek dari anotasi multimedia terhadap
akuisisi kosa kata Bahasa Inggris. Ulasan singkat tentang penelitian ini akan
disampaikan di sini.
Para peneliti telah
tertarik menguji efek gambar dan anotasi verbal pada pembelajaran kosa kata
Bahasa Inggris, dan telah menemukan bahwa pemrosesan informasi pendukung
seperti gambar dan terjemahan meningkatkan pembelajaran Bahasa Inggris. Dalam
hal ini, Chun dan Plass (1996) menekankan ide bahwa menghubungkan kosa kata
Bahasa Inggris dengan jenis media yang berbeda membantu memperkaya tanda-tanda
ingatan dan meningkatkan daya ingat. Mereka menguji dampak anotasi multimedia
pada akuisisi kosa kata Bahasa Inggris dan pemahaman teks bacaan menggunakan
tes pengenalan dan produksi. Soal-soal tes sejajar degan modalitas dimana
didalamnya informasi disajikan. Mereka menemukan bahwa siswa mengerjakan dua jenis tes itu dengan lebih
baik ketika baik anotasi tulisan dan gambar disajikan daripada tidak ada
anotasi sama sekali selama membaca. Sebagai tambahan, Jones dan Plass (2002)
menemukan bahwa gabungan kedua jenis anotasi tadi memungkinkan lebih daripada
satu pengambilan rute ke informasi dalam memori jangka panjang. Mereka
melaporkan bahwa siswa yang mengakses baik anotasi tulisan dan gambar ketika
mereka mendengarkan multimedia, akan bisa mengerjakan soal tes pengenalan kosa
kata Bahasa Inggris tertulis daripada siswa yang hanya mengakses satu anotasi
atau tidak ada anotasi sama sekali.
Mirip dengan itu, Jones
(2004) mengadakan dua penelitian untuk meneliti bagaimana anotasi gambar dan
tulisan mempengaruhi kinerja siswa terhadap tes kosa kata Bahasa Inggris secara
insidental yang mengharuskan siswa untuk baik mengenal maupu mengingat kosa
kata Bahasa Inggris secara insidental yang dipelajari dari teks yang didengar,
menggunakan soal tes gambar dan tulisan. Subyek dari penelitian ini ialah siswa
jurusan Perancis yang mulai berbicara Bahasa Inggris di University of Arkansas
pada musih gugur 2001. Materi yang digunakan untuk penelitian adalah empat
perlakukan multimedia dengar. Materi itu disajikan kepada siswa menggunakan lab
komputer Macintosh 24 stasiun., yang diatur sedemikian rupa sehingga siswa hanya bisa melihat layar komputernya
sendiri-sendiri. Prosedurnya ialah subyek mendengar teks aural yang terdiri
dari sejumlah kosa kata Bahasa Inggris termasuk kata kerja, kata benda, kata
sifat, dan frase keterangan kerja.Kosa kata itu diseleksi oleh profesor mereka
untuk pentingnya memahami teks. Siswa ditugasi secara acak terhadap salah satu
kelompok empat multimedia. Yaitu: satu
kelompok kontrol yang tidak menerima anotasi, dan tiga kelompok perlakuan yang
menerima anotasi tulisan, gambar, atau baik gambar maupun tulisan ketika
mendengarkan. Sebuah pre tes dan post tes digunakan untuk mengamati efek dari
ada dan tidaknya anotasi gambar dan tulisan terhadap pembelajaran kosa kata Bahasa
Inggris dari teks aural.
Hasil penelitian
mengungkapkan bahwa kelompok kontrol, yaitu kelompok yang tidak menggunakan
anotasi apapun, berkinerja paling jelek pada post tes. Pada post test tertulis
produksi kosa kata, subyek yang menggunakan kedua jenis anotasi, atau
menggunakan anotasi tertulis sendiri berkinerja lebih baik daripada yang tidak
mengakses anotasi tertulis. Pada tes tertunda, kelompok anotasi tertulis lebih
memiliki lebih daya ingat kosa kata Bahasa Inggris daripada semua kelompok lainnya,
sementara kelompok gambar tidak sangat berbeda dengan kelompok kontrol. Jones
(2004) menyatakan bahwa “adanya isyarat visual dan verbal bisa memfasilitasi
pembelajaran, khususnya ketika representasi verbal dan visual yang terkait
secara berdekatan ada dalam memori yang
bekerja” (hal.123)
Al-Seghayer (2001)
meneliti keefektifan dua mode anotasi yang berbeda dalam lingkungan multimedia:
definisi teks cetak dipasangkan dengan gambar mati, dan definisi teks cetak
dipasangkan dengan klip video dinamik. Masalah utama dalam penelitiannya adalah
menentukan mode gambar yang mada, gambar mati atau video dinamis, yang lebih
efektif membantu akuisisi kosa kata Bahasa Inggris. Subyek dari penelitiannya
adalah 30 siswa Bahasa Inggris yang mendafar di English Language Institute di
Universitas Pittsburgh. Program belajar multimedia yang didesain oleh peneliti
digunakan dalam penelitian ini. Program itu memberikan siswa yang membaca teks
Inggris naratif dengan berbagai catatan atau anotasi untuk kata itu dalam
bentuk teks cetak, grafik, video, dan suara, yang semuanya di maksudkan untuk
membantu pemahaman dan pembelajaran kata yang belum diketahui. Tiga variabel
diteskan: definisi teks cetak sendiri, definisi teks cetak yang dipasangkan
dengan gambar mati, dan definisi cetak yang dipasangkan dengan klip video. Dua
jenis tes kosa kata Bahasa Inggris didesain dan diselenggarakan untuk siswa
setelah mereka membaca narasi Bahasa Inggris. Tes itu adalah tes pengenalan dan
tes produksi. Lagipula, wawancara tatap muka diadakan, dan kuesioner dibagikan.
Hasil dari penelitian
ini menyarankan bahwa clip video digabungkan dengan definisi teks lebih efektif
dalam mengajar kosa kata yang belum diketahui daripada gambar yang
dikombinasikan dengan definisi teks. Siswa belajar dan mengingat lebih banyk
kata ketika clip video diberikan
daripada ketika gambar diberikan. Berbagai isyarat modalitas bisa saling
menguatkan dan terhubung bersama dalam cara yang bermakna untuk memberikan
pengalaman yang dalam.
Lagipula, Plass, Chun,
Mayer, dan Leutner (1998) menguji efek dari pemilihan anotasi multimedia pada
pemahaman dan akuisisi kosa kata Bahasa
dari teks bacaan Bahasa Jerman. Dalam penelitian mereka, siswa bisa
memilih melihat terjemahan Inggris dari kata Jerman di layar (anotasi tertulis)
atau melihat gambar atau video klip yang merepresentasi kata terpilih (anotasi
gambar). Siswa berkinerja paling baik pada tes kosa kata dan daya ingat ketika
mereka memilih anotasi tertulis dan gambar sementara membaca teks berdasar
komputer ketika mereka mengakses anotasi tertulis itu sendiri, anotasi gambar
sendiri atau tidak ada anotasi sama sekali. Oleh karena itu, belajar akan
meningkat ketika siswa memilih informasi tertulis dan gambar, mengorganisasi
informasi dalam memori yang bekerja, membangun koneksi referensi antara
informasi tertulis dan gambar, dan memadukan anotasi dalam meningkatkan
pemahaman pembelajar dan akuisisi kosa kata Bahasa Inggris.
Sebagai tambahan, Coriano (2001) mendukung
keefektifitasan anotasi multimedia dalam meningkatkan akuisisi kosa kata Bahasa Inggris ketika membaca. Dia menemukan
bahwa mahasiswa Bahasa Inggris di Puerto Rico yang memandang
tiga jenis anotasi (konteks, definisi, dan terjemahan) mendapatkan nilai
tertinggi dan teringat secara jangka panjang, dan menghasilkan jumlah tertinggi
kosa kata sasaran dalam konteks Bahasa Inggris yang terkontrol dan produktif
secara bebas, sedangkan kelompok yang tidak menerima anotasi semuanya nilainya
paling jelek.
Kebanyakan dari
penelitian ini berfokus pada orang dewasa yang sedang belajar Bahasa Inggris.
Berbeda dengan penelitian tadi, Sun dan Dong (2004) mengadakan penelitian untuk
meneliti pembelajaran akuisisi kosa kata
Bahasa Inggris pada anak dalam konteks multimedia. Materi belajar yang
digunakan sebagai konteks untuk akuisisi kosa kata Bahasa Inggris ialah bagian dari kartun
Disney yang termasuk 29 kalimat Bahasa Inggris. Mereka meneliti dampak dari
duka jenis dukungan pembelajaran pada siswa Cina. Satu ialah penterjemahan
tingkat kalimat dimana dalam terjemahan itu program komputer menyajikan
terjemahan Cina secara lisan setelah setiap kalimat Bahasa Inggris. Yang kedua
adalah pemanasan sasaran yang terjadi sebelum anak-anak melihat kartun.
Sebuah pre-test diadakan
untuk menilai apakah anak tahu arti dari kata sasaran dalam kartun yang
digunakan dalam studi ini. Terbukti bahwa tak satupun anak mengetahui arti dari
beberapa bahasa sasaran. Tiga kondisi belajar didesain untuk menguji dukungan
belajar mana yang paling efektif dalam konteks multimedia: tidak ada dukungan,
kondisi terjemahan tingkat kalimat dan kombinasi dari terjemahan tingkat
kalimat dan pemanasan. Tiga post test
komputer diterapkan segera setelah anak melihat kartun: Tes Pengucapan Kata,
Tes Pemahaman Kata, dan Tes Terjemaan Kalimat. Penemuan menunjukkan bahwa
belajar akuisisi kosa kata Bahasa
Inggris dalam konteks yang berdasar pada animasi tanpa dukungan belajar
tidaklah efisien bagi pemula muda. Lagipula, hasil menunjukkan bahwa dukukungan
pembelajaran berupa Penterjemahan Tingkat Kalimat dan Pemanasan ketika
diberikan bersama-sama bisa meningkatkan akuisisi kosa kata Bahasa Inggris (hal.143)
Lagipula, Wood (2001)
meninjau kembali beberapa produk software yang didesain untuk siswa SD yang
bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan leksikal siswa. Dia menemukan bahwa
produk yang menekanka penggunaan multimedia berkontribusi paling besar terhadap
pembelajaran kosa kata secara dinamis. Dia menyatakan bahwa multimedia
mengakomodasi jangkauan gaya belajar dengan cara menawarkan lebih dari satu
poin entri kepada anak.
Peneliti dalam bidang
itu berusaha memberikan teori supaya bisa menjelaskan dampak yang berguna dari
multimedia dalam meningkatkan pembelajaran bahasa. Under wood (1990)
menjelaskan keefektifan multimedia dalam akuisisi kosa kata Bahasa Inggris. Dia menyatakan bahwa sejak
pengguna multimedia mampu memproses media gabungan (teks, suara, dan visual)
secara simultan, pendukung pengajaran
multimedia berargumen bahwa meningkatnya input sensorial ada melalui tekhnologi
yang disertai dengan potensi untuk
terlibat aktif, dan interaksi dengan input ini memperkirakan bahwa isi (dalam
hal ini bahasa Inggris) akan lebih siap terpadu dalam sistem perkembangan siswa
dan, oleh karena itu, bisa mengingat kosa kata secara lengkap. Demikian juga,
Mayer (1997) menunjukkan bahwa adanya baik gambar dan isyarat verbal bisa
memfasilitasi pembelajaran. Dia menyatakan bahwa jika informasi diproses secara
kognitif melalui saluran verbal dan
visual, strategi prosesi ganda beranggapan bahwa individu meningkatkan
representasi gambar mental dari input grafis dan representasi verbal input
linguistik.
Secara lebih jauh, nilai
dan dampak konteks multimedia dalam pembelajaran bahasa bisa dijelaskan oleh
dua teori: teori generatif dan teori koding ganda. Mayer (1997) menyajikan
teori generatif dari pembelajaran multi media. Teori ini menyatakan bahwa
pembelajar Bahasa Kedua memiliki dua sistem verbal secara terpisah (bahasa
pertama dan bahasa kedua) dan sistem imajeri. Ini menunjukkan bahwa
penterjemahan kosa kata melalui penyajian secara verbal dan visual akan
memiliki dampak tambahan pada pembelajaran ketika mereka menghubungkan imajeri
dan dua sistem verbal. Kedua, teori
koding ganda dari Piavo (1971) yang menyatakan bahwa memori dan kognisi
dilayani oleh dua sistem terpisah; satu sistem khusus untuk informasi verbal,
seperti kata tercetak, dan sistem yang lain untuk informasi non verbal,
misalnya gambar dan video. Representasi dalam satu sistem bisa mengaktifkan
representasi dalam sistem yang lain (disadur dalam Al-Seghayer, 2001)
Survei literatur mendukung penggunaan anotasi
multimedia untuk meningkatkan akuisisi kosa kata Bahasa Inggris karena kata dikodekan secara
ganda sebagai hasil dari hubungan perujukan yang dibentuk antara sistem visual
dan verbal.
Berdasar pada diskusi
sebelumnya, kita mendapati bahwa kebanyakan dari penelitian ini berfokus pada
akuisisi kosa kata Bahasa Inggris di
kalangan orang dewasa kecuali untuk penelitian yang dilakukan oleh Sun dan Dong
(2004), dan Wood (2001). Sun dan Dong dalam penelitian mereka berfokus pada
penterjemahan tingkat kalimat dan pemansan menggunakan animasi kartun. Di lain
pihak, penekanan pada penelitian Wood adalah pada penentuan unsur penting dari
software kosa kata yang bagus yang digunakan untuk anak. Bagaimanapun juga,
penelitian kita berbeda dari penelitian ini, yaitu bahwa penelitan berfokus
pada dampak menggunakan penjelasan verbal dan gambar animasi dalam kombinasi
sebagai mode multimedia dalam mengajara kosa kata Bahasa Inggris kepada siswa
SD.
1.
Definisi Istilah
Multimedia: Multimedia dalam lingkungan
komputer menyiratkan sebuah kombinasi berbagai media, teks, video, gambar, dan
audio, atau kombinasi dari dua ini, dan mungkin linear atau non linear (Sutton,
1999)
Akuisisi kosa
kata Bahasa Inggris: segala kegiatan belajar yang
dilakukan siswa dengan tujuan mendapatkan kosa kata Bahasa Inggris baru (Groot,
2000)
Gambar Animasi:
gambar, termasuk
teks, yang ditayangkan pada monitor komputer dengan ilusi gerakan dalam ruang
(Rieber 1990, disadur dalam Iheanacho, 1997)
2.
Tujuan dari Studi ini
Penelitian ini berusaha meneliti
keefektifan multimedia dalam mengembangkan akuisisi kosa kata Bahasa Inggris. Penelitian ini akan
membandingkan antara keefektifan penggunaan gambar mati dan penggunaan animasi
dalam konteks multimedia untuk mengajar kosa kata Bahasa Inggris kepada siswa
SD. Skopa dari penelitian ini akan berada dalam pembelajaran kosa kata. Kami
mengadopsi definisi Groot tentang
pembelajaran kosa kata, yang ia gunakan untuk merujuk pada setiap
kegiatan pembelajaran yang dilakukan siswa dengan tujuan mendapat pengetahuan
baru” (2000:62). Penelitian kami bertujuan untuk menjawab pertanyaan di bawah
ini:
Mana yang lebih efektif untuk
memfasilitasi akuisisi kosa kata Bahasa
Inggris: animasi multimedia atau gambar mati?
Dengan
mempertimbangkan pertanyaan di atas, dan berdasar pada penelitian sebelumnya
yang membuktikan efek positif multimedia pada akuisisi kosa kata Bahasa Inggris, kami memformulasikan hipotesa
sebagai berikut:
Kedua kelompok akan mendapatkan
kosa kata yang diajarkan, tetapi kelompok eksperimemtal akan mendapatkan
akuisisi kosa kata Bahasa Inggris lebih
baik dan daya ingat akan kosa kata yang lebih lama daripada kelompok kontrol.
3.
Metodologi
a. Partisipan
Partisipan ialah siswa SD peremlpuan di Saudi
di Sekolah Al-Rowad di Riyadh. Mereka semua kelas enam, umur antara 11-12.
Siswa dari penelitain kuasi eksperimental ini masuk dalam kelompok murni tak
tersentuh, mereka tidak terseleksi secara acak. Mereka adalah siswa kelas yang
ada pada waktu itu. Kelompok kontrol terdiri dari 24 siswa. Kelompok ini
diajarkan dalam cara tradisional dengan cara mengguunakan gambar mati dari kosa
kata. Di lain pihak, kelompok eksperimental terdiri dari 18 siswa. Kelompok imi
diajarkan melalui penggunaan penyajian power point dari kosa kata.
B. Materi
Pelajaran yang telah
diajarkan dipilih dari supervisor Jurusan Bahasa Inggris. Diambil dari buku
teks khusus New English Parade 6, yang digunakan di sekolah. Judul pelajarannya
adalah Adventure dan termasuk sejumlah kosa kata baru yang
berhubungan dengan konsep itu sendiri. Peneliti memilih sembilan kata utnu
disajikan dalam subyek. Kata yang sama telah diajarkan pada kedua kelompok
(lihat lampiran A)
Sebelum menyampaikan
pelajaran, sebua pre tes telah dilakukan untuk mengecek tingkat pengetahuan
siswa akan kata-kata baru. Pre tes ini dilakukan oleh guru siswa itu sendiri
dua hari sebelum melakukan penelitian. Ini termasuk kelompok gambar dan kata
sasaran yang harus dijodohkan oleh siswa dengan gambar yang cocok. Tes ini
terdiri dari delapan kosa kata, kemudian diskor dari delapan (Lihat Lampiran
B).
Pelajaran diberikan pada
hari yang sama untuk dua kelompok. Kelompok kontrol mendapat pelajaran pada
kelas biasa, sementara kelompok
eksperimental mendapat pelajaran dalam laboratorium bahasa di sekolah.
Perbedaan lingkungan ini menciptakan perbedaan dalam tingkat kesenangan dan
semangat di antara siswa dari dua kelompok. Kelompok eksperimental ditemukan
lebih senang selama pelajaran, dan ini dicerminkan dalam nilai mereka, juga.
Kedua kelompok telah diajarkan oleh guru yang sama (peneliti). Ini dilakukan
secara sadar agar bisa mengkontrol satu variabel.
Presentasi power point
telah didesain oleh peneliti sendiri. Ini termasuk sejumlah slilde, setiap
slide mengandung satu kata dan sejumlah gambar animasi yang
merepresentasikanya. Pertama siswa melihat gambar kemudian kata baru
dimunculkan untuk mereka. Gambar yang sama yang digunakan disini telah dicetak
pada hard copy dan digunkan untuk mengajar kelompok kontrol (lihat Lampiran C)
Setelah menyajikan
pelajaran , post tes diadakan segera pada bagian yang sma. Ini diterapkan untuk
kedua keompok dan dilakukan dengan cara itu dikarenakan tidak adanya waktu,
karena melakukan penelitian di hari lain memerlukan kunjungan lagi ke sekolah,
yang agak sulit. Post tes termasuk daftar gambar dan daftar lain dari kosa kata
baru. Siswa harus menjodohkan setiap gambar dengan kata yang cocok yang
mewakilinya. Tes ini juga termasuk delapan kosa kata dan dinilai dari delapan
(lihat Lampiran D)
Variabel dalam
penelitian ini ialah akuisisi kosa kata Bahasa Inggris. Latihan soal dalam kedua tes merupakan sama jenisnya
dimana siswa diminta untuk menjodohkan kata dengan gambar yang benar.
Bagaimanapun, ada sedikit perbedaan antara dua tes mengenai gambar yang
digunakan dan urutannya.
C. Prosedur
Pengaturan untuk
mengadakan penelitian didiskusikan oleh peneliti dengan supervisor Jurusan
Bahasa Inggris dua minggu sebelum mengadakan penelitian. Berdasarkan itu, pre
tes diadakan oleh guru siswa sendiri sebelum mengadakan penelitian. Pelajaran
yang mengandung kata sasaran diberikan untuk dua kelompok pada hari yang sama.
Durasi setiap pelajaran empat puluh menit. Kelompok kontrol menerima pengajaran
menggunakan flashcard dengan gambar mati pada satu sisi,dan kata pada sisi
lain. Di pihak lain, kelompok eksperimental diajari pelajaran dalam lab bahasa.
Disana, peneliti menggunakan lap top dan projektor untuk menunjukkan animasi
kata baru. Pada akhir pelajaran, setiap kelompok diberikan post tes untuk
dijawab.
D. Analisa
Data dikumpulkan melalui
pre dan post tes untuk bisa menjawab pertanyaan peneliti. Hasil dari kedua tes
ini dianalisa menggunakan program SPSS. Pertama, data pre test untuk setiap
kelompok disisipkan dan dianalisa secara terpisah agar supaya nsia menemukan
rerata dan simpangan baku dari skor setiap kelompok. Prosedur yang sama diikuti
dengan skor post tes setiap kelompok. Paired sample t-test diterapkan untuk
melihat apakah ada perbedaan signifikan dalam akuisisi kosa kata Bahasa Inggris
antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimental. Hipotesa diuji pada tingkat
signifikasi 0.5
4.
Hasil
Penelitian terkini diadakan untuk menentukan efektifitas multimedia dalam
meningkatkan akuisisi kosa kata Bahasa Inggris di antara siswa SD di sekolah
swasta di kota Riyadh. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan:
Mana yang lebih efektfi utuk
memfasilitasi akuisisi kosa kata Bahasa Inggris: multimedia atau gambar mati?
Seperti yang dijelaskan
sebelumnya, penelitian kami dilakukan di SD swasta, dan subyek penelitian
adalah 42 siswa perempuan. Pelajaran kosa kata diberikan di salah satu jam
sekolah. Kelompok kontrol menerima
pengajaran menggunakan metoda konvensional, misalnya penjelasan verbal dan
flashcard yang merepresentasi kosa kata baru. Di pihak lain, kelompok
eksperimental menerima pengajaran dengan menggunakan presentasi power point dan
proyektor.
Pre dan post test yang
meliputi pengenalan kosa kata diadakan untuk semua subyek penelitian dari
sampel sebelum dan sesudah eksperimen. Sejumlah t test kemudian diterapkan
untuk rerata pre dan post tes dari kedua kelompok untuk mengetahui apakah
perbedaan antara keduanya secara statistik signifikan.
Seperti yang ditunjukkan
dalam tabel (1, 2, 3, & 4) di bawah, skor rerata dari pembelajaran pre tes
untuk kelompok eksperimental adalah 2.11. Rerata naik menjadi 5.888 dalam post
tes kosa kata. Di pihak lain, skor rerata dari pre tes pembelajaran kosa kata
untuk kelompok kontrol adalah 2.333 dan naik menjadi 4.54 dalam post test.
Table 1. Descriptive
statistics (pre-test of the control group)
|
|
N
|
Minimum
|
Maximum
|
Mean
|
Std. Deviation
|
|
Pretest
|
24
|
.00
|
8.00
|
2.3333
|
2.23931
|
|
Valid N (listwise)
|
24
|
|
|
|
|
Table 2.
Descriptive Statistics (post-test of the control group)
|
|
N
|
Minimum
|
Maximum
|
Mean
|
Std. Deviation
|
|
Post
|
24
|
2.00
|
8.00
|
4.5417
|
1.64129
|
|
Valid N (listwise)
|
24
|
|
|
|
|
Table 3.
Descriptive statistics (pre-test of the experimental group)
|
|
N
|
Minimum
|
Maximum
|
Mean
|
Std. Deviation
|
|
Pretest
|
18
|
.00
|
8.00
|
2.1111
|
2.96824
|
|
Valid N (listwise)
|
18
|
|
|
|
|
Table 4.
Descriptive Statistics (post-test of the experimental group)
|
|
N
|
Minimum
|
Maximum
|
Mean
|
Std. Deviation
|
|
Posttest
|
18
|
2.00
|
8.00
|
5.8889
|
1.90630
|
|
Valid N (listwise)
|
18
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
A. Hasil
Analisa Statistik Pre dan Post dalan Akuisisi Kosa Kata Bahasa Inggris
Untuk menjawab pertanyaan penelitian ini
(Apakah multimedia efisien dalam meningkatkan Akuisisi Kosa Kata Bahasa Inggris
pada siswa di SD Swasta di Riyadh), juga untuk menguji hipotesa penelitian
(bahwa ada signifikasi perbedaan antara Akuisisi Kosa Kata Bahasa Inggris
antara kelompok eksperimental dan kelompok kontrol), t test diterapkan untuk
skor kedua kelompok untuk menentukan perbedaan.
Pertama, untuk
menentukan persamaan awal antara dua kelompok sebelum aplikasi percobaan itu, t
tes di aplikasikan pada skor rerata dua kelompok pada pre tes kosa kata.
on the vocabulary pre-test. See table (5).
Table 5. Pre-test of the two
groups (Paired Samples Statistics)
One-Sample
Test
|
|
Test Value = 0
|
|||||
| T |
df
|
Sig. (2-tailed)
|
Mean Difference
|
95% Confidence Interval of the
Difference
|
||
| Lower |
Upper
|
|||||
|
Pretest
|
5.970
|
41
|
.000
|
2.38095
|
1.5755
|
3.1864
|
Analisa hasil dari pre
test mengungkapkan bahwa sementara rerata skor dari kelompok eksperimental
dalan pembeljaran kosa kata adalah 2.111, rerata skor dari kelompok kontrol
adalah 2.333 dan t =5.9 (p>0.05) yang secara statistik signifikan pada
tingkat kepercayaan 0.5. Dengan kata lain, terbukti tidak ada perbedaan
signifikan antara dua kelompok sebelum dimulainya percobaan.
Kedua, t test diterapkan
pada seluruh skor dari dua kelompok pada post tes kosa kata . Lihan tabel (6)
Table 6.
Post-test for both groups (Paired-Sample Statistics)
One-Sample Test
|
|
Test Value = 0
|
|||||
| T |
df
|
Sig. (2-tailed)
|
Mean Difference
|
95% Confidence Interval of the
Difference
|
||
| Lower |
Upper
|
|||||
|
post
|
18.224
|
41
|
.000
|
5.14286
|
4.5729
|
5.7128
|
Analisa mengungkapkan bahwa sementara rerata kelompok eksperimental
adalah 5.888, skor rerata kelompok kontrol 4.54. Ini juga mengungkapakan bahwa
t=6.85, yang secara statistik signifikan (p<0.1) tingkat kepercayaan. Lihat
Tabel (7)
Table 7.
Paired Samples Test (Both tests)
|
|
Paired Differences
|
T
|
df
|
Sig. (2-tailed)
|
|||||
|
|
Mean
|
Std. Deviation
|
Std. Error Mean
|
95% Confidence Interval of the Difference
|
|
|
|
||
|
|
|
|
|
Lower
|
Upper
|
|
|
|
|
|
Pair 1
|
Pretest – post
|
-2.76190
|
2.61151
|
.40296
|
-3.57571
|
-1.94810
|
-6.854
|
41
|
.000
|
Maka, dukungan yang didapat untuk hipotesa penelitian seperti yang
ditunjukkan hasi ini jelas bahwa penggunaan multimedia meningkatkan akuisisi
kosa kata Bahasa Inggris dari subyek eksperimental
5.
Diskusi Hasil
Tinjauan hasil di Tabel (1, 2, 3,
4, 5 ,6, & 7) memberikan jawaban positif terhadap pertanyaan penelitian :
Apakah multimedia efisien dalam meningkatkan akuisisi kosa kata Bahasa Inggris
di antara siswa perempuan SD di Riyadh? Pada waktu yang sama, ini menegaskan
hipotesa yang dinyatakan: Ada perbedaan signifikan antara skor rerata siswa
yang menerima pembelajaran kosa kata melalui multimedia dan siswa yang menerima
pembelajaran kosa kata melalui metoda konvesional.
Sementara
mendiskusikan hasil ini, ini akan relevan pada beberapa masalah penting yang
dijelaskan dalam bahasan literatur. Pertama, menurut Underwood (1990) yang
menyatkan bahwa penggunaan multimedia membuat siswa mampu mengingat kosa kata
yang dipelajari lebih lengkap, anggapannya terbukti disepanjang eksperimen di
mana siswa yang menerima pengajaran multi media mendapat hasil skor lebih
tinggi dalan pos tes daripada yang tidak.
Lagipula, pengamatan informal selama
eksperimen secara konsisten menunjukkan bahwa kelompok multimedia lebih
termotivasi daripada kelompok kontrol. Mereka mendemonstrasika kesukaan dan
minat yang lebih dalam belajar.
Kedua,
Mayer (1997) mengindikasi tentang adanya isyarat gambar dan verbal dalan
pengajaran bahasa dan keefektifitasannya
dalan proses kognitif juga terlihat di
hasil eksperimen kami. Subyek dari kelompok eksperimental menunjukkan
pemrosesan kognitif input linguistik, misal, kosa kata baru, daripada subyek
dari kelompok kontrol.
Ketiga,
penemuan Plass, Chum, Mayer, dan Leutner (1998) mendukung penggunaan anotasi
multimedia dalam meningkatkan pemahaman siswa dan akuisisi kosa kata Bahasa
Inggris. Dalam penelitian kami, anggapan ini didukung oleh hasil dari hasil
kelompok eksperimental. Mereka menunjukkan akuisisi lebih baik akan kosa kata
baru daripada kelompok yang tidak terekspos pada anotasi multimedia.
Akhirnya,
dinyatakan oleh Wood (2001) bahwa ketika animasi dikombinasi dengan penjelasan
informatif dan menarik, potensi untuk pembelajaran kata sangat meningkat juga
pemrosesan mendalam akan kosa kata baru ini. Hasil dari penelitian terbaru
membuktikan pernyataan Wood. Kelompok eksperimental lebih mengungguli
kinerjanya daripada kelompok kontrol. Ini berarti bahwa animasi benar-benar
berdampak positif terhadap daya ingat kosa kata baru.
6.
Kesimpulan
Penelitian ini mengeksplorasi
keefektifan multimedia pada pembelajaran kosa kata baru bagi siswa perempuan di
kelas enam SD di Riyadh. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa gambar animasi
lebih efektif dalan menjarkan kosa kata baru daripada gambar mati. Partisipan
belajar dan mengingat lebih baik kata ketiak menggunakan animasi. Di antara
faktor yang mungkin yang bisa menjelaskan hasil ini adalah bahwa animasi
meningkatkan rasa ingin tahu siswa yang secara positif mempengaruhi daya ingat
kosa kata yang diberikan. Ini jelas dari pengamatan peneliti sendiri tentang
interaksi siswa selama pelajaran dan juga dicerminkan dalam hasil.
7.
Rekomendasi
Prosedur dan hasil penelitian
menerangi sejumlah masalah yang bisa digunakan untuk rekomendasi di masa
mendatang. Rekomendasi yang diberikan bertujuan mengatasi keterbatasan penelitian.
Pertama, replikasi dari penelitian ini dengan jumlah partisipan yang lebih
besar diperlukan supaya bisa mendapatkan hasil yang handal dan bisa
digeneralisasikan, karena ukuran kecil sampel (N=42) meragukan pada validitas
signifikasi yang diamati. Kedua, peneliti percaya bahwa hasil dari penelitian
tidak benar-benar membuktikan asumsi karena pendeknya waktu selama penelitian.
Maka, mereka menyaranka melakukan penelitian yang sama dengan waktu yang
panjag. Misal satu semester, supaya bisa mencapai hasil yang andal. Ketiga,
studi ini hanya menguji kemampuan pengenalan siswa, yang dilakukan dengan
tujuan pembatasan waktu. Maka, studi di masa depan diperlukan untuk menunjukkan
efek multimedia pada pengenalan anak juga produksi kosa kata. Dengan demikian,
disarankan agar mengadakan pos tes lain setelah waktu yang lebih lama untuk
mengukur daya ingat jangka panjang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar